Affichage des articles dont le libellé est truth. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est truth. Afficher tous les articles
mercredi 4 juillet 2012
mardi 22 mai 2012
renungan. penting.
seharusnya malam ini aku menekuri kitab sutasoma ekonomi bab perbankan zaman majapahit. duh, awesome sekali. tapi sayange sakcintae aku, aku kok nyeleweng dulu berkat otakku hang. OSnya perlu diupgrade setelah libur dan cara mengupgradenya adalah dicekoki kafein sebanyak mungkin. otakku nyeleweng jauh, malah ngurusi pemerentah yang ndak bertindak maksimal guna mensukseskan kebijakan moneter dan meraih stabilitas ekonomi
aih, omonganku cik duwure. padahal, stabilitas ekonomi dompet sendiri aja diterpa badai. utang sana sini padahal bb paketan sing luwarang. kemenyek. dan kebijakan moneter di rumah saya aja belum dilaksanakan oleh jendral ibu negara serta letnan satunya ayahanda pecinta layang-layang. aiiih.
kenapa sih sampe saat ini negara di luar rumah saya ini kok durung bisa mencapai stabilitas ekonomi?
kepriben, katane wong jowo. gagalmaning, kalo kata saya.
tragis.
dramatis.
abstrak.
what the hell, kata nyonya besar pemilik toko platyhelminthes goreng. aduhai.
sesungguhnya, warga Indonesia bagian pertengahan itu tidak menye-menye. sukanya ya kritik pemerintah sana sinih padahal fasilitas udah digelar walopun ya itu tadi durung maksimal
apalagi yang sengaja membuat bencana demi keuntungan pribadi, ya kan, om #kode
menurut tutur pinutur pengicau yang saya tahu, pendapatan per kapita sudah naik dibandingin taun taun sebelumnya. alhamdulillah. harga lombok juga sudah turun kok, kata pembantu saya.
masalahnya adalah kapan Indonesia bisa mencapai stabilitas ekonomi dimana daya beli uang tidak sampe kena serbu tentara inflasi. kalo gitu...
yang jelas lapangan kerja itu dibutuhkan lho, om om. untuk menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya dengan kualitas dan kapasitas otak yang ajib. kalo lapangan kerja bisa menyerap banyak sarjana-sarjana nganggur dewasa ini, dijamin bisa meningkatkan pendapatan per kapita bumi pertiwi. ojok yang sekedar ada embel embel huruf S ndek belakang namanya. orang-orang cerdas yang beruntung dan giat itu dibutuhkan negeri ini. catat, garis bawahi kata cerdas, beruntung, dan giat
sedangkan, bidang lapangan pekerjaan di instansi pemerintahan sudah full. yang jadi andalan ya swasta. jadi, enterpreneur-enterpreneur itu bisa kan bikin suatu lapangan kerja yang bisa menyerap banyak tenaga kerja bukan tenaga kuda. kalo bisa juga sih, lapangan kerja yang mengeksplorasi bukan mengeksploitasi sumber daya alam jadi optimal
sebenernya Indonesia itu kaya, bukan kaya beruk, kaya sumber daya alam cuma orang-orangnya pada nggak tau gimana caranya mengeksplorasi semua kelebihan itu. saya tau sih, negeri pertiwi empunya transportasi odong-odong ini lagi beralih ke negara berbasis industrial
cuman saya rasa rada nggak cocok aja kalo all industry kayak gitu, soalnya lahan pertanian juga ada dimana-mana. kalo bisa mengkombinasikan itu semua pasti bisa jadi negara maju yang kaya. subhanallah.
ah tapi saya kan cuma anak SMA masih kelas satu lagi, saya tahu apa sih soal urusan negara dan duitnya yang buanyuak itu bisa buat shopping lagi #eh #kode
tapi yang jelas, kalo dikasih kesempatan beropini, saya bisa bikin open speech di depan pemerentah pemerentah tentang kinerja mereka. apalagi de pe er. huft.
udah, ah, saya mao belajar dulu :3
dimanche 13 mai 2012
takluk
kamu adalah satu gumpalan awan merah
kamu menjadi anomali di langit kelabu yang sunyi
menjadi demonstran terhadap kepaduan
menceraiberaikan kesatuan yang semu
dalam hening yang tercipta
kamu beraninya mencumbu rayu ku
hendaknya ku biarkan daripada kamu merajalela
menjadi candu bagi sore dan larut malamku
kamu raja dari diraja yang berkuasa
menaklukkan sang bilqis yang lugu
membuatnya tahu adat
kamu acuh namun aku peduli, kumohon bahagialah untukku
kamu seperti kosnpirasi tingkat tinggi, misteri
namun telah tercipta sebuah jalan
langkahku saling silang merengkuh sang diraja nan agung
tunggu. tunggu disana!
biar. biarlah salamku mewakili segala asa untuk merengkuhmu
intermezzo, candu, dan kamu
imajinasi medium yang menjadi dasar
yang kadangkala menipu realita yang sinis
menjadi semacam intermezzo untuk sebuah pendakian
tajam, penuh kerikil, dan amatir
sikapmu yang kadangkala acuh
nama yang merindumu menjadikanmu candu
opium bukan intermezzo, namun ia candu
kau adalah candu, kau intermezzo, dan kau manusia
bukan opium linting murahan
rasuki raga setengah sadar yang menginginkanmu
isi kealfaan rabaan kasih yang ia butuhkan,
letupan-letupan kembang api yang fantastik
buat ia melambung tinggi
tinggi sampai ia terpuaskan bahwa nyata adalah mimpi
abstraktif
saling paradoks,
bisa juga ku sebut kontradiktif satu sama lain
coretan berani yang tegas
merah api melawan biru samudra
gejolak yang tak terelakkan
memercikkan harmonisasi keindahan yang gelap
namun sunyi tanpa motif,
ia hening dalam gaduh yang kasat
ia bimbang,
namun sejatinya adalah suatu yang nyeni
sesuatu yang tak terdefinisikan oleh barisan huruf
paradoks
kamu membuatku ingin main kembang api lagi
dia ingin membuatku bermain perahu kertas
kau bergelora dalam asa muda yang pemberani
seperti kuda sembrani menantang badai
dia menenangkan jiwa penuh lara yang ternoda
seperti kepak sayap kupu-kupu biru
kau mengajakku menantang segala probabilitas
dia mengajakku membuat ekspektasi terhadapnya
kau mengajakku pada hingar bingar yang impulsif
dia mengajakku pada suatu ketenangan duniawi
adalah paradoks.
paradoks dalam hidup yang bergejolak
sang pemimpi
aku yang telah mendaki gunung
telah ditenggelamkan ke palung
aku tidak akan takut
hempaslah aku, ombak yang angkuh
rapuhkanlah aku jika berani, kenangan yang dungu
Kau telah menempaku dengan keras
menempaku dengan panas bergelora
menyiramku dengan hujan badai tiada ampun
sampai aku menjadi intan di antara batu karang
aku berlari merentangkan tangan
menggandeng awan dan mengejar matahari
lalu memeluk sang bulan malam
aku bukanlah pungguk,
aku hanya pemimpi yang pragmatis
ibu pertiwi
perempuan itu termangu-mangu
wajahnya tak tampak lelah
sekilas terlihat bekas kegaharan
di balik elegannya pancaran kedewasaan
masih cantik memikat meski telah menabrak karang
usia pun ia telah uzur
agaknya mulai lelah menatap anak anaknya
ada ratusan juta jumlahnya
namun hanya beberapa yang mentas jadi orang
ia mulai jemu melihat mereka yang mulutnya berbusa
jemu menatap mereka yang minum air kali
jemu pula melirik mereka yang acuh
satu per satu kemajuan di buat mereka yang mentas,
tapi ia tak kunjung senang
tak kunjung berhenti ia dilarut duka
politisi
tuturmu adalah asa merengkuh nyata
hendak tersampaikan namun enggan
realita adalah duniamu yang nyata
namun kesadaranmu masih jauh dalam mimpi
adalah anomali tiap tingkahmu di depan kami
adalah madu berlapis dusta atau dusta dibalut madu
tuturmu adalah alibi
sabotase terhadap senyum-senyum mereka
berkacalah pada cermin yang tak retak
semoga angin menghempasmu dengan keras
sampai kau jatuh, jatuh lalu penuh luka rupamu
biar kau lihat sekumpulan manusia minum air kali
hendak tersampaikan namun enggan
realita adalah duniamu yang nyata
namun kesadaranmu masih jauh dalam mimpi
adalah anomali tiap tingkahmu di depan kami
adalah madu berlapis dusta atau dusta dibalut madu
tuturmu adalah alibi
sabotase terhadap senyum-senyum mereka
berkacalah pada cermin yang tak retak
semoga angin menghempasmu dengan keras
sampai kau jatuh, jatuh lalu penuh luka rupamu
biar kau lihat sekumpulan manusia minum air kali
Inscription à :
Articles (Atom)
